Selasa, 29 Desember 2009

Dari Pabrik Gula Cukir Melawan Neolib

Bukan kebetulan bila KH Hasyim Asy'ari –Pendiri NU--mendirikan sebuah pesantren yang hanya berjarak 200 m sebelah barat dari pabrik gula Cukir pada tahun 1899. Kehidupan buruh pabrik yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan akibat penghisapan kapitalisme membuat Hasyim Asy'arie tergerak mendirikan sebuah pesantren demi mengangkat harkat dan martabat mereka.

Para buruh pabrik gula Cukir yang terletak di dukuh Tebuireng hanya mendapatkan upah pas-pasan yang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk menutupi kebutuhan hidupnya, para buruh terpaksa berhutang kepada lintah darat ataupun majikan mereka. Hidup para buruh bagaikan "gali lubang tutup lubang". Himpitan ekonomi para buruh menyebabkan mereka berusaha mencari pelarian. Mabuk minuman keras, judi, madat dan main perempuan adalah pelarian para buruh dari kesulitan ekonomi mereka.

Sistem kapitalisme dan liberalisme yang melandasi berdirinya pabrik gula Cukir dan pabrik-pabrik gula lain di seantero Jawa secara sistematis telah melakukan proses pemiskinan yang dahsyat terhadap rakyat Indonesia. Sejak diterapkannya Cultuur Stelsel alias Tanam Paksa sejak 1830, kolonial Belanda mulai merampas tanah-tanah pertanian milik rakyat untuk ditanami komoditas perkebunan yang kalu di pasaran Eropa. Kondisi tersebut makin bertambah parah ketika Tanam Paksa digantikan Politik Liberal tahun 1870 yang membuka pintu bagi investor asing di sektor perkebunan.

Indonesia pada masa itu adalah pengekspor gula nomor dua terbesar di dunia setelah Kuba. Perkebunan tebu pun marak menggantikan tanaman makanan rakyat seperti padi dan palawija. Pabrik-pabrik gula berdiri di mana-mana. Jaringan rel kereta api pertama dibangun menghubungkan perkebunan tebu dan pabrik gula di selatan Jawa dengan Semarang, kota pelabuhan di pantai utara Jawa. Petani Indonesia yang kehilangan sawah terpaksa bekerja di perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula milik pengusaha Swasta Eropa. Salah satunya adalah pabrik gula Cukir.

Dengan mendirikan sebuah pesantren, KH Hasyim Asy'ari mencoba berdakwah kepada kaum buruh di lingkungan pabrik Cukir agar mau meninggalkan kehidupan maksiat mereka dan mencari solusi atas himpitan ekonomi yang menerpa mereka. Pesantren yang didirikan KH. Hasyim Asy'ari pun tidak hanya mengajarkan agama semata-mata, namun mengajak para santrinya yang sebagian besar adalah buruh pabrik gula Cukir untuk bertani dan berwirausaha. KH Hasyim Asy'ari tidak hanya berfungsi sebagai kyai, tapi juga sebagai motivator dan manajer yang mendorong dan mengendalikan sejumlah usaha ekonomi di pesantren tersebut. Setiap pagi usai shalat dhuha dan mengajar kitab, KH Hasyim mengumpulkan sebagian santrinya untuk diberikan berbagai macam tugas, seperti merawat sawah, ternak ataupun bangunan pondok. KH Hasyim juga seorang pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya KH Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah, ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga, pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, KH Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.


Nahdlatut Tujjar

KH Hasyim Asy'ari bersama KH Wahab Chasbullah dan sejumlah kyai dan saudagar santri lainnya lalu mendirikan Nahdlatut Tujjar pada tahun 1918, sebuah organisasi yang menghimpun kyai dan saudagar Muslim untuk mendobrak ketimpangan ekonomi masyarakat akibat sistem ekonomi liberalisme yang diterapkan kolonialisme Belanda.

Berkaitan itu, KH Hasyim Asy’ari menguraikan tentang problem-problem keumatan yang terkait erat dengan soal ekonomi. KH Hasyim Asy’ari menuntut kepedulian para ulama, karena merekalah pemimpin dan teladan umat. Apabila basis-basis dan simpul-simpul kemandirian ekonomi tidak dibangun, selain para ulama telah berdosa, bangsa ini juga akan terus terpuruk dalam kemiskinan, kemaksiatan dan kebodohan akibat dari kuatnya pengaruh kolonial.

Yang tak kalah menarik, sejak awal pendiriannya, Nahdlatut Tujjar ternyata telah mengenal dan menerapkan manajemen organisasi modern. Pembagian struktur organisasi dan pembagian kerja, di mana ada para pendiri, kepala perusahaan, direktur, sekretaris, marketing dan pengawas keliling sudah dipraktikkan di Nahdlatut Tujjar. KH. Hasyim Asy’ari dipilih sebagai kepala perusahaan dan mufti (semacam komisaris), KH. Wahab Hasbullah sebagai direktur perusahaan, H. Bisri sebagai sekretaris perusahaan, dan Syafi’i sebagai marketing sekaligus pengendali perusahaan.

Ada profit share. Pembagian keuntungan 50% menjadi kesepakatan bersama, tetapi masih boleh dikembalikan untuk memperkuat modal. Dengan begitu, Nahdlatut Tujjar didirikan bukan hanya untuk membangun basis perekonomian para ulama, melainkan menjaga tradisi perdagangan yang sudah ada sejak sebelum datangnya kolonial dan turut menciptakan pasar sendiri di daerah Surabaya, Kediri dan Jombang. Dengan Nahdlatut Tujjar, KH Hasyim Asy'ari bersama sejumlah kyai lain mendirikan Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi Islam terbesar yang berandil besar dalam perjuangannya mendirikan Republik Indonesia.

Apakah Tuhan akan kembali mengirim reinkarnasi KH Hasyim Asy’ari untuk melawan neo-liberalisme dan memperbaharui Republik? Tuhan pun telah menjawab, "Sesungguhnya Aku tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri merubah nasibnya". Jadi, tunggu apalagi?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar